Peran Senyawa Kimia pada Gerak Tumbuhan

08.38 Unknown 12 Comments

Senyawa kimia pada tumbuhan berupa hormone tumbuhan atau fitohormon. Hormon adalah senyawa organic bukan hara (nutrient), baik yang terbentuk secara alami maupun dibuat oleh manusia yang dalam kadar sangat kecil mampu mendorong, menghambat, atau mengubah pertumbuhanperkembangan, dan pergerakan (taksis) tumbuhan.
Hormon tumbuhan dihasilkan sendiri oleh individu yang bersangkutan (endogen) terutama pada bagian tumbuhan yang sel-selnya masih aktif membelah diri (pucuk batang/cabang atau ujung akar) atau dalam tahap perkembangan pesat (buah yang sedang dalam proses pemasakan). Pemberian hormon dari luar sistem individu dapat pula dilakukan (eksogen). Pemberian secara eksogen dapat juga melibatkan bahan kimia non-alami (sintetik, tidak dibuat dari ekstraksi tumbuhan) yang menimbulkan rangsang yang serupa dengan fitohormon alami. Transfer hormon dari satu bagian ke bagian lain dilakukan melalui sistem pembuluh (xilem dan floem) atau transfer antarsel. Tumbuhan tidak memiliki kelenjar tertentu yang menghasilkan hormon.
a.       Hormon auksin
Pada gerak tumbuhan, hormone yang berperan adalah hormone auksin. Pada dasarnya hormone auksin adalah hormone yang ditemukan pada ujung batangakar, dan pembentukan bunga yang berfungsi untuk sebagai pengatur pembesaran sel dan memicu pemanjangan sel di daerah belakang meristem ujung. Auksin berperan penting dalam pertumbuhan tumbuhan
Fungsi dari hormon auksin ini dalah membantu dalam proses mempercepat pertumbuhan, baik itu pertumbuhan akar maupun pertumbuhan batang, mempercepat perkecambahan, membantu dalam proses pembelahan sel, mempercepat pemasakan buah, mengurangi jumlah biji dalam buah. kerja hormon auksin ini sinergis dengan hormon sitokinin dan hormon giberelin.tumbuhan yang pada salah satu sisinya disinari oleh matahari maka pertumbuhannya akan lambat karena kerja auksin dihambat oleh matahari tetapi sisi tumbuhan yang tidak disinari oleh cahaya matahari pertumbuhannya sangat cepat karena kerja auksin tidak dihambat. Sehingga hal ini akan menyebabkan ujung tanaman tersebut cenderung mengikuti arah sinar matahari atau yang disebut dengan fototropisme.
Untuk membedakan tanaman yang memiliki hormon yang banyak atau sedikit kita harus mengetahui bentuk anatomi dan fisiologi pada tanaman sehingga kita lebih mudah untuk mengetahuinya. sedangkan untuk tanaman yang diletakkan di tempat yang terang dan gelap diantaranya untuk tanaman yang diletakkan di tempat yang gelap pertumbuhan tanamannya sangat cepat selain itu tekstur dari batangnya sangat lemah dan cenderung warnanya pucat kekuningan. Hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin tidak dihambat oleh sinar matahari. sedangkan untuk tanaman yang diletakkan di tempat yang terang tingkat pertumbuhannya sedikit lebih lambat dibandingkan dengan tanaman yang diletakkan di tempat gelap, tetapi tekstur batangnya sangat kuat dan juga warnanya segar kehijauan, hal ini disebabkan karena kerja hormon auksin dihambat oleh sinar matahari.
Cara kerja hormon Auksin adalah menginisiasi pemanjangan sel dan juga memacu protein tertentu yg ada di membran plasma sel tumbuhan untuk memompa ion H+ ke dinding sel. Ion H+ mengaktifkan enzim ter-tentu sehingga memutuskan beberapa ikatan silang hidrogen rantai molekul selulosa penyusun dinding sel. Sel tumbuhan kemudian memanjang akibat air yg masuk secara osmosis.
Auksin pertama kali diisolasi pada tahun 1928 dari biji-bijian dan tepung sari bunga yang tidak aktif, dari hasil isolasi didapatkan rumus kimia auksin (IAA = Asam Indolasetat) atau C10H9O2N. Setelah ditemukan rumus kimia auksin, maka terbuka jalan untuk menciptakan jenis auksin sintetis seperti Hidrazil atau 2, 4 - D (asam -Nattalenasetat), Bonvel Da2, 4 - Diklorofenolsiasetat), NAA (asam (asam 3, 6 - Dikloro - O - anisat/dikambo), Amiben atau Kloramben (Asam 3 - amino 2, 5 – diklorobenzoat) dan Pikloram/Tordon (asam 4 – amino – 3, 5, 6 – trikloro – pikonat).
Auksin sintetis ini sudah digunakan secara luas dan komersial di bidang pertanian, di mana batang, pucuk dan akar tumbuh-tumbuhan memperlihatkan respons terhadap auksin, yaitu peningkatan laju pertumbuhan terjadi pada konsentrasi yang optimal dan penurunan pertumbuhan terjadi pada konstrasi yang terlalu rendah atau terlalu tinggi.
b.      Hormon Giberelin
Giberelin (bahasa Inggris: gibberellin) atau asam giberelat (bahasa Inggris: gibberellic acid, disingkat GA) adalah semua anggota kelompok hormon tumbuhan yang memiliki fungsi yang serupa atau terkait dengan bioassay GA1. GA hadir pada hampir sepanjang hidup tumbuhan dan diketahui mengaturperkecambahan, pemanjangan batang, pemicuan pembungaan, perkembangan kepala sari (anther), perkembangan biji dan pertumbuhan perikarp. Selain itu, fitohormon ini juga berperan dalam tanggapan terhadap rangsang melalui regulasi fisiologis yang terkait dengan mekanisme biosintesisnya.
Giberelin pada tumbuhan dapat ditemukan dalam dua fase utama yaitu giberelin aktif (GA bioaktif) dan giberelin nonaktif. Giberelin yang aktif secara biologis (GA bioaktif) mengontrol beragam aspek pertumbuhan dan perkembangan tanaman, termasuk perkecambahan biji, batang perpanjangan, perluasan daun, dan bunga dan pengembangan benih. Hingga tahun 2008 terdapat lebih daripada seratus GA telah diidentifikasi dari tanaman dan hanya sejumlah kecil darinya, seperti GA1 dan GA4, diperkirakan berfungsi sebagai hormon bioaktif.

c.       Hormon sitokinin
Giberelin (bahasa Inggris: gibberellin) atau asam giberelat (bahasa Inggris: gibberellic acid, disingkat GA) adalah semua anggota kelompok hormon tumbuhan yang memiliki fungsi yang serupa atau terkait dengan bioassay GA1. GA hadir pada hampir sepanjang hidup tumbuhan dan diketahui mengaturperkecambahan, pemanjangan batang, pemicuan pembungaan, perkembangan kepala sari (anther), perkembangan biji dan pertumbuhan perikarp. Selain itu, fitohormon ini juga berperan dalam tanggapan terhadap rangsang melalui regulasi fisiologis yang terkait dengan mekanisme biosintesisnya.
Giberelin pada tumbuhan dapat ditemukan dalam dua fase utama yaitu giberelin aktif (GA bioaktif) dan giberelin nonaktif. Giberelin yang aktif secara biologis (GA bioaktif) mengontrol beragam aspek pertumbuhan dan perkembangan tanaman, termasuk perkecambahan biji, batang perpanjangan, perluasan daun, dan bunga dan pengembangan benih. Hingga tahun 2008 terdapat lebih daripada seratus GA telah diidentifikasi dari tanaman dan hanya sejumlah kecil darinya, seperti GA1 dan GA4, diperkirakan berfungsi sebagai hormon bioaktif.

d.      Asam Absisat (ABA)
Asam absisat atau ABA merupakan kelompok fitohormon yang terkait dengan dormansi dan perontokan daun (senescense). Hormone ini diproduksi sendiri oleh tumbuhan. ABA selanjutnya dapat diproses menjadi bentuk turunan tidak aktif yang disebut sebagai ABA metabolit. ABA sering dikelompokkan sebagai hormon inhibitor karena perannya yang kerap terkait dengan penundaan proses. Hormon ini juga dihasilkan olehalga hijau dan cendawan

e.       Etiline
Etilena atau etena merupakan satu-satunya zat pengatur tumbuh yang berwujud gas pada suhu dan tekanan ruangan (ambien). Selain itu, etilena tidak memiliki variasi bentuk yang lain. Peran senyawa ini sebagai perangsang pemasakan buah telah diketahui sejak lama meskipun orang hanya tahu dari praktek tanpa mengetahui penyebabnya. Pemeraman merupakan tindakan menaikkan konsentrasi etilena di sekitar jaringan buah untuk mempercepatpemasakan buahPengarbitan adalah tindakan pembentukan asetilena (etuna atau gas karbid); yang di udara sebagian akan tereduksi oleh gas hidrogenmenjadi etilena.
Berbagai substansi dibuat orang sebagai senyawa pembentuk etilena, seperti ethephon (asam 2-kloroetil-fosfonat, diperdagangkan dengan nama Ethrel) dan beta-hidroksil-etilhidrazina (BOH). Senyawa BOH dapat pula memicu pembentukan bunga pada nanas.
Kalium nitrat diketahui juga merangsang pemasakan buah, namun belum diketahui secara pasti hubungannya dengan perangsangan pembentukan etilena secara endogen.
Berbagai senyawa sintetik dibuat dan diperdagangkan untuk menghambat atau menunda proses metabolisme, seperti MH, (2-kloroetil)trimetilamonium klorida (CCC, merek dagang Cycocel dan Chlormequat), SADH, ancymidol, asam triiodobenzoat (TIBA), dan morphactin.

Pemahaman terhadap fitohormon pada masa kini telah membantu peningkatan hasil pertanian dengan ditemukannya berbagai macam zat sintetik yang memiliki pengaruh yang sama dengan fitohormon alami. Aplikasi zat pengatur tumbuh dalam pertanian modern mencakup pengamanan hasil (seperti penggunaan Cycocel untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap lingkungan yang kurang mendukung), memperbesar ukuran dan meningkatkan kualitas produk (misalnya dalam teknologi semangka tanpa biji), atau menyeragamkan waktu berbunga (misalnya dalam aplikasi etilena untuk penyeragaman pembungaan tanaman buah musiman)

12 komentar:

Pentingnya Konservasi Hutan

08.34 Unknown 29 Comments

Baluran (2013)



Baluran (2013)


Sering kita tidak tahu betapa pentingnya konservas hutan. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang acuh-tak acuh untuk melakukan konservasi terhadap hutan yang semakin rusak. Oleh karena itu kita perlu mengetahui pentingnya dilakukannya konservasi hutan ini. pentingnya konservasi hutan antara lain:



a.       Meningkatnya jumlah simpanan air
Selain flora dan fauna yang terancam oleh kerusakan hutan yang paling utama adalah menurunnya simpanan air. Dengan membiarkan hutan tetap berkembang secara alami akan membuat cadangan air akan semakin besar, sehingga bahaya kekeringan bahkan sampai tanah longsong dapat terhindari
b.      Terpeliharanya keanekaragaman hayati
Tujuan utama dari konservasi hutan adalah menjaga keanekaragaman tumbuhan dan hewan. Dengan adanya konservasi hutan berarti kita dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan yang ada. Bahkan dengan adanya taman buru, perburuan terhadap binatang dapat diawasi, sehingga dapat meminimalisir perburuan terhadap hewan liar secara illegal.
c.       Penurunan urbanisi
Dengan adanya konservasi hutan maka akan ada tugas baru bagi manusia disekitarnya. Jadi konservasi ini akan membutuhkan tenaga manusia untuk tetap ikut menjaganya. Dengan demikian, orang disekitar hutan tersebut tidak perlu mencari nafkah ke kota-kota besar. Apalagi sudah banyak hutan konservasi yang dibuka untuk tempat wisata sehingga hal ini dapat membuka lowongan pekerjaan bagi warga sekitar.
Bekol-Baluran (2013)







SAVE YOUR TREES FOR YOUR OXYGEN....!!!!!!!!!!!!!!!


29 komentar:

KEGAGALAN DALAM KULTUR JARINGAN

08.00 Unknown 0 Comments

OK..!! semester lalu ada tugas kultur jaringan dan alhasil alhamdulillah dari 110 mahasiswa hampir 80 % GAGAL... sebenarnya apa sih penyebab dari kegagalan kultur jaringan? nah ini beberapa yang aku tahu dari penyebab kegagalan tersebut. dan bagi kalian yang masih mau mencoba kultur jaringan saya beri beberapa tips cara mencegah kegagalan tersebut!

A.   Faktor yang menyebabkan terjadinya kontaminasi pada media dan eksplan yang dikultur
1.      Kegagalan dalam sterilisasi
Sterilisasi dilakukan pada eksplan dan peralatan untuk melakukan kultur jaringan. Tunuannya adalah untuk mencegah adanya bakteri atau spora yang menempel pada eksplan ataupun peralatan. Namun terkadang sterilisasi yang dilakukan kurang, sehingga media masih terkontaminasi spora maupun bakteri.
2.      Terjadinya browning pada eksplan
Browning adalah suatu keadaan pada eksplan yang ditandai dengan warna coklat yang menandakan adanya senyawa fenol pada eksplan tersebut. Pada umumnya peristiwa ini menandakan kemunduran fisiologi eksplan sehingga eksplan mati dan tidak dapat tumbuh atau digunakan sebagai eksplan pada kultur jaringan.
3.      Kesalahan prosedur pelaksanaan
Pada pembuatan kultur jaringan membutuhkan ketelitian tinggi dan kehati-hatian. Dalam prosesnya masih banyak kesalahan pada prosedur kerja, sehingga dapat menyebabkan kontaminasi pada media ataupun eksplan.

B.     Cara mengatasi kontanimasi
1.      Sterilisasi dilakukan pada eksplan, media, peralatan, lingkungan kerja dan ruang kultur yang digunakan
2.      Berhati-hati dan menjaga kebersihan dalam pelaksanaan
3.      Penggunaan media yang mengandung antibiotik
4.      Penggunaan eksplan yang berukuran sekecil mungkin

5.      Pemotongan bagian teratas eksplan yang telah tumbuh. Bagian bawah eksplan disubkulurkan dan bagian bawah dibuang.

0 komentar:

BATUAN BEKU

08.23 Unknown 0 Comments

Fenomena meletusnya gunung berapi mengeluarkan lava yang nantinya dapat membeku membentuk batuan beku. Batuan beku dapat dilihat dari struktur, komposisi mineral, dan tekstur.
Batuan beku (igneous rock) adalah batuan yang terbentuk langsung dari magma, baik di bawah permukaan bumi (intrusive) atau di atas permukaan bumi (ekstrusif), cirri khas batuan beku adalah kenampakan kristalin, yaitu kenampakan suatu massa dari unit-unit kristal yang saling mengunci (interlocking).

Batuan beku atau batuan igneus adalah jenis batuan yang terbentuk dari magma yang mendingin dan mengeras, dengan atau tanpa proses kristalisasi, baik di bawah permukaan sebagai batuan intrusif (plutonik) maupun di atas permukaan sebagai batuan ekstrusif (vulkanik).

Batuan beku intrusif adalah batuan beku yang proses pembekuannya berlangsung dibawah permukaan bumi. berdasarkan kedudukannya terhadap perlapisan batuan yang diterobosnya struktur tubuh batuan beku intrusif terbagi menjadi dua yaitu konkordan dan diskordan. Konkordan adalah tubuh batuan beku intrusif yang sejajar dengan perlapisan disekitarnya. sedangkan diskordan adalah tubuh batuan beku intrusif yang memotong perlapisan batuan disekitarnya.

Bagan batuan beku Intrusif:



Batuan ekstrusi merupakan batuan beku yang terbentuk dari pembekuan magma di permukaan bumi. Batuan ini terdiri dari mineral-mineral yang dikeluarkan ke permukaan bumi baik yang di daratan maupun yang ada di permukaan laut.

0 komentar:

Oksidasi Asam Lemak

08.26 Unknown 0 Comments

oke,,, hari ini kita akan bahas tentang Oksidasi asam lemak. dari catatanku selama perkuliahan metabolisme inilah hasilnya...


Oksidasi asam lemak terjadi dalam tiga langkah yaitu, aktivasi, transport ke dalam mitokondria, dan oksidasi menjadi asetil – Ko.a (β oksidasi).


1.      Aktivasi
Dalam proses aktivasi, setelah dicerna oleh usus halus, asam lemak dibawa darah keseluruh tubuh, dalam hal ini dibutuhkan 2 ATP dan melepaskan 2 Pi. Setelah diaktivasi sudah dalam bentuk Fatty acil Co.A.

2.      Transport ke dalam mitokondria
Dalam proses ini terdapat 3 tahap reaksi oksidasi FA dalam mitokondria, yaitu:
1)      Oksidasi LCFA menjadi mol 2 c : asetil Co.A
2)      Oksidasi asetil Co.A menjadi CO2 dengan TCA
3)      Transfer elektron karier elektron yang tereduksi ke rantai enzim (fosforilasi oksidatif).

3.      β oksidasi
Setelah memasuki sel, FA masuk ke dalam matriks mitokondria untuk degradasi lebih lanjut. FA diaktivasi dengan enzim fatty acyl – CO A ligase atau Acyl Co. A synthase / thiokinase. Enzim ini spesifik untuk setiap jenis asam lemak (MCFA, SCFA beda dengan LCFA). Oksidasi LCFA melalui jalur metabol penghasil energi utama pada hewan, beberapa protista dan beberapa bakteri.
Elektron dari proses oksidasi FA melewati rantai respirasi mitokondria menghasilkan ATP (asetil Ko.A hasil okaidasi FA kemudian dioksidasi sempurna menjadi CO2 melalui TCA membentuk ATP sintase)
Pada beberapa vertebrata, asetil Ko.A hasil β oksidasi dirubah menjadi badan keton di dalam hati (larut dalam air) dan ditransport aktif ke otak dan jaringan lain pada saat gula tidak tersedia pada tumbuhan. Asetil Ko.A berfungsi utama sebagai prekursor bio sintesis (pembentukan kembali).
β oksidasi terdiri dari
1)      Dehidrogenasi / Oksidasi
Dehidrogenasi Berperan pada pembentukan rantai ganda antara atom C-C. Mempunyai akseptor hidrogen FAD⁺. Antara asam lemak yang berbeda panjangnya akan berbeda pula enzimnya. Dalam proses ini menghasilkan 2 ATP. Dalam dehidrogenasi akan kehilangan atom H+ dan bereaksi dengan O2.
Degradasi FA dengan jumlah C ganjil pada akhir β oksidasi, acetoacetil Co.A  dipecah akan menghasilkan propionil Co.A dan asetil Co.A. propionil Co.A diubah menjadi metilmalonil Co.A, metilmalonil Co.A dirubah menjadi suksinil Co.A, suksinil Co.A dirubah menjadi TCA.
2)      Hidratasi
Dalam proses ini disebut juga sebagai penambahan air. Tidak dibutuhkan dan tidak menghasilkan energi. Mengkatalisis hidrasi trans enoyl CoA. Penambahan gugus hidroksi pada C no. 3. Ensim bersifat stereospesifik. Menghasilkan 3-L-hidroksiasil Co. A
3)      Dehidrogenasi
Mengkatalisis oksidasi -OH pada C no. 3 / C β à menjadi keton
Akseptor elektronnya : NAD+ .
4)      Thiolisis
Thiolisis disebut juga dengan pemecahan molekul dari substrak. β-Ketothiolase mengkatalisis pemecahan ikatan thioester. Acetyl-CoA dilepas dan tersisa asam lemak asil ko A yang terhubung dgn thio sistein mll ikatan tioester. Tiol HSCoA menggantikan cysteine thiol, menghasilkan  fatty acyl-CoA (yang telah berkurang 2 C). 

Dalam 1 asam palmitat dapat menghasilkan 129 ATP.
Menghasilkan              : 8 asetil Co A             = 8 x 12 = 96 ATP (dalam mitokondria)
Mengalami 7 β oksidasi          :7 x 5               = 35 ATP   +
                                                                        = 131 ATP
Digunakan untuk aktivasi                               ________  _
                                                                        = 129 ATP


Pembentukan Benda-Benda Keton
Penimbunan senyawa keton dalam darah disebut ketosis dan pengeluaran melalui urine dapat mencapai 100 gram atau lebih tiap hari (ketonuria).
Asetil Co.A banyak dihasilakan saat asetil Co.A jumlahnya lebih banyak daripada aksalo asetat, terutama terjadi dihati. Ketika jumlah asetil co-A seimbang dengan jumlah oxaloasetat (untuk masuk ke siklus kreb), maka akan menjadi asam sitrat. Ketika jumlah asetil co-A tidak seimbang dengan jumlah oxaloasetat, maka tidak dapat  membentuk asam sitrat. Sehingga terbentuk benda keton. Hal ini terjadi saat metabolisme/degradasi lipid >> metabolisme/ degradasi.
Tiga senyawa keton antara lain Acetoasetat, D-3 - hidroksi butirat, dan aseton. Fungsi benda keton antara lain:
1.      Di otot, benda keton merupakan sumber energi.
2.      Keton sebagai sumber energi jika berada di seluruh sel selain sel hati.
3.      Di dalam hati tidak ada enzim 3-oxoacid co-A transferase, sehingga tidak dapat menggunakan keton sebagai sumber energi
Oxaloasetat, Hidroxybutirat, dan Asetone merupakan senyawa keton atau keton body’s. Ketika energi dari karbohidrat dan protein tidak cukup, maka akan terjadi pembongkaran lipid yang ada di jaringan adiposa. Sehingga lipolisis meningkat dan glikolisis menurun. Hal ini menyebabkan jumlah asetil co-A jauh lebih tinggi sehingga terjadi siklus samping yag menghasilkan keton.
Dalam biosintesis asam lemak oksalo asetat tidak dapat secara langsung memasuki mitokondria sehingga harus merubah diri menjadi piruvat. Perubahannya dapat digambarkan dalam siklus dibawah ini
biosintesis asam lemak
pembentukan malonil CO.A dari asetil
pemanjangan rantai



0 komentar: